Impian Anak-Anak Kaum Marginal Belum Berakhir

 

hari anak

Soal pendidikan di Indonesia masih cukup banyak anak-anak yang belajar seadaanya di sekolah formal. Setelah lulus SD biasanya ada yang langsung menikah atau bekerja seadaanya di kampung mereka. Bahkan tak jarang mereka tidak di ijinkan untuk mengecam pendidikan yang lebih baik karena adat istiadat yang kerap membelengu mereka melarang ini dan itu. Sebuah pertanyaan mengusik. Apakah mereka punya impian?

Masyarakat marginal seperti anak jalanan, kelompok miskin ,masyarakat adat serta mereka yang memiliki kemampuan berbeda berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak . Bagi mereka yang jarang sekali melihat kemewahan dunia luar. Materi memang menjadi sesuatu yang mereka impikan. Namun lebih dari pada itu sesunguhnya ada yang lebih berharga yang layak mereka dapatkan yaitu perubahan karakter dan menyadari sesunguhnya untuk apa mereka hidup.

Saya percaya bahwa keberhasilan itu berangkat dari satu pijakan yaitu impian. Mengajak mereka bermimpi dan mewujudkan impian mereka. Mengajak mereka untuk bebas berekspresi dan membayangkan kedepan nanti mereka ingin seperti apa dan menjadi apa?

Sekolah formal di pedalaman saat ini masih banyak menemui kekurangan. Baik itu masalah fasilitas yang kurang memadai, tenaga pengajar yang kurang, model-model pengajaran yang seadanya maupun persoalan tradisi yang membelengu mereka untuk tidak perlu sekolah. Oleh karena itu pengajaran alternatif di luar sekolah formal menjadi penting sebagai langkah untuk mendukung pemberian pendidikan khususnya bagi kaum marginal.

Pengajaran alternatif sesunguhnya sudah semakin banyak tumbuh dan berkembang. Mereka dibentuk oleh komunitas,kelompok, lembaga masyarakat, mahasiswa ,volunteer, penyalur dana dan lain-lain. Namun masih saja banyak yang terkendala masalah finansial maupun keterbatasan yang lain. Pengajaran alternatif perlu diberikan perhatian besar. Pemerintah daerah dan pusat bersama para pendukung pengajaran alternatif membuat program jangka pendek maupun jangka panjang yang terprogram dengan baik. Bekerja bersama sama memetakan persoalan dan mengambil langkah untuk memberikan solusi bagi pengembangan pengajaran alternatif yang berbasis pada potensi lokal. Memberikan bekal ketrampilan, menumbuhkan rasa percaya diri sehingga nantinya pengajaran menjadi tepat sasaran.

Perhatian besar bukan hanya soal materi dan fasilitas. Alangkah baiknya jika pemerintah daerah paham betul tingkat kesulitan yang dihadapi kaum marginal di daerahnya. Baik itu persoalan karakter, adat istiadat,ekonomi hingga potensi yang dimiliki oleh mereka bukan kemudian menjanjikan ini dan itu dengan harapan secara instan dapat merubah nasib mereka. Idealnya jika pemerintah daerah, pusat dan komunitas, kelompok , penyalur dana, volunteer bisa berkolaborasi dengan baik tentu saja mereka khususnya kaum marginal akan memiliki banyak kesempatan untuk menjadi orang yang lebih produktif.

Melalui pengajaran alternatif ini mereka kaum marginal diajak untuk merenda impian sedikit demi sedikit. Bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi menjadi sangat penting untuk membangun kepercayaan diri mereka. Mereka layak mendapatkan pengetahuan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Berkenalan dengan komunitas baru diluar komunitas mereka,mengenalkan teknologi dan bahasa, mengajak anak-anak dan pelajar menari, mengambar, menulis, menyanyi,berhitung, mengekspresikan cita-cita mereka kedepan. Bersama – sama belajar dan meraih mimpi bersama sama. Mereka menjadi suka sekolah, mereka memiliki cita-cita dan bisa membayangkan seperti apa kehidupan mereka kelak. Mereka sendirilah yang harus menentukan impian mereka bukan orang lain.

@deendatoto,  Selamat Hari Anak Nasional.

Child Care

parenting 3

Bertanyalah pada 50 atau 100 orang tua cara mengasuh anak. Saya berani bertaruh kalian akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda dan nasehat yang beragam tetapi yang saya percaya semua orang tua memiliki kiat masing-masing untuk memberikan pola asuhan terbaik untuk anaknya.

Ada orang yang mengatakan anak nya sulit sekali untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ada juga sebaliknya, mereka memiliki bayi yang mudah beradaptasi, memiliki emosi yang lebih stabil dan tidak mudah marah. “Anakku gampang, kalo di tinggal, dikasih tau juga nurut” Namun ada juga yang membutuhkan perlakuan khusus karena anaknya memiliki emosi kurang stabil apalagi jika keinginannya tidak di turuti maka si anak akan menangis atau meronta. Saya memahami bahwa karakter anak, karakter orang tua bahkan bentuk pekerjaan menjadi sekian faktor munculnya beragam cerita soal pengasuhan anak.  Bagi orang tua yang memiliki anak yang emosinya lebih stabil tentu memudahkan mereka untuk merawatnya sementara yang emosinya kurang stabil mendorong orang tua untuk pintar dan kreatif.

Beragam cerita itu kemudian membawa ingatan saat saya memiliki kesempatan menjadi volunteer di lembaga yang konsen kepada tumbuh kembang anak bernama Pustaka Familia di Jogjakarta. Saya berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan pemerhati anak. Kami menulis buku dan belajar mengenai tumbuh kembang anak pada usia golden age (usia 0-5 tahun). Masa golden age adalah masa pesat pembentukan otak dan juga emosi. Pada usia ini anak-anak belum bisa memilih dan menentukan, itu sebab nya mereka membutuhkan orang dewasa untuk mengarahkan.

Saat menjadi volunteer saya melihat banyak kasus anak dan yang terbanyak yaitu anak-anak usia 1-5 tahun lebih memiliki banyak waktu bersama pengasuhnya daripada orang tua nya. Dimana perhatian dan kasih sayang hanya mereka dapat dari segelintir pengasuh. Akibatnya jika terlalu lama ikatan emosi antara anak dan orang tua renggang. Dari kasus yang pernah saya lihat di lapangan ini tak heran jika saya merasa setuju bahwa orang tua perlu memberi perhatian khusus pada anak di usia golden age, masa dimana mereka belajar membangun ikatan emosi, etika dan rasa menghargai anak kepada orang tua. Golden age yang terprogram memang tidak mutlak menjamin kesuksesan anak di masa depan tetapi memberi perhatian lebih kepada mereka adalah hak anak-anak kita.

 

@deendatoto Selamat hari rabu, bagaimana cara kalian mengasuh anak  dan  kelak akan mengasuh anak?