Kubikel 17

Awalnya meja kerja saya di lantai 20 bukan berbentuk kubikel, melainkan meja ruang meeting yang dipaksakan sebagai ruang kerja sehari-hari.

Saya dan project tim yang berjumlah lebih dari 15 kepala akhirnya harus meringis uyel-uyelan setiap harinya layaknya angkot 640 di sore hari; berjubel,berdesakan,miring sedikit saja pemilik tubuh si anu dan si anu akan saling bersengolan.

Itu kenapa ketidaknyamanan ini memaksa tim untuk pindah ke ruangan lain yg lebih legowo.

alhasil pagi ini harus angkut-angkut menuju ruangan baru di lantai 17.

Aih dan sekarang saya punya kubikel dan kubikel saya menghadap  ke jalan besar sehingga bilangan slipi dan deretannya tampak jelas dari depan meja kerja saya. Yah paling tidak saya bisa melihat matahari yang mulai terbenam di ujung sore atau melihat senja yang makin memerah dari ujung kaca lantai 17 atau atau kedapatan  bilangan slipi yang mulai dipenuhi kendaraan yang berderet dari  Tol semanggi dan sebaliknya. Aih tapi yang jelas lampu Jakarta akan menemani waktu lembur saya.

Saya berharap kubikel baru dan ruangan baru ini tak hanya menorehkan kenyamanan untuk tubuh saat bekerja tapi juga asupan energy lebih dan lebih. Selamat datang kubikel 17.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s